Suara Aneh Di Kamar Istriku

Bab 1

"Argghhh, Mas!"


"Auhhh, Tolong mas aku nggak kuat"


"Jangan, tolong"


"Mas Hadi, Sakit"


"Sakitt!" Suara itu berasal dari kamar istriku, dan namaku bukan Hadi. Aku yang baru selesai berjamaah sholat shubuh, langsung merah madam. Mendobrak pintu kamar dan mendapati istriku terkulai lemas di lantai.


Aku langsung membangunkan Istriku dengan kasar, tapi tidak kunjung bangun. Aku tarik tubuhnya dari lantai, menggendongya dan meletakanya di atas kasur.


"Bu !" Aku berteriak memanggil Ibu dan meminta penjelasan terkait Lastri istriku.


"Bu, ibu nggak liat ada orang masuk kedalam kamar Istriku?" Ibu menggelengkan kepala, sambil mengelus dada dan kepalaku.


"Sabar Nak, biarkan istrimu dulu." Ibu menarik tanganku keluar kamar, dan menuntunku untuk duduk di ruang tamu.


"Nak, Ibu mungkin terlambat untuk mengatakan ini, tapi percayalah ini untuk kebaikanmu." Ibu mulai duduk disampingku dan mulai bercerita.


"Dengarkan baik-baik Nak, ini mungkin akan sedikit mengguncang jiwamu." Ibu menarik nafas perlahan dan kemudian melanjutkan "Istrimu selalu seperti itu setiap lepas Shubuh" Ibu menundukan kepalanya, terlihat lemas.


"Maksudnya?" Aku benar-benar tidak mengerti penjelasan ibu.


"Sabar nak, Ibu juga sama saat pertama mendengar istrimu menjerit kesakitan dan menyebutkan nama Hadi, bahkan Ibu langsung membawa pisau masuk kedalam kamar istrimu." Ibu menitikan air matanya, ketika menceritakan itu.


"Rasa marah dan benci Ibu sama sepertimu, saat pertama kali mendengar istrimu menjerit seperti itu" Ibu benar-benar terlihat lelah, memeluku dan menangis.


"Namun ketika ibu masuk kedalam kamar istrimu, tidak ada siapa-siapa selain istrimu yang tergeletak di lantai." Sambil tersendu ibu menceritakannya.


"Ibu bersabar, semoga kamu juga" Ibu terus menangiis membasahi baju yang aku kenakan.


"Ibu minta kamu, untuk tinggal beberapa minggu ini. Ibu tau, banyak hal yang akan kamu tinggalkan nanti, tapi ini demi istri kamu. Bawa pekerjaanmu kerumah, minta kompensasi"

Hampir saja ibu mencium kaki, kalau aku tidak menghindar.


"Bu, bu sudah. Iya aku akan tinggal." Aku menggangkat tubuh tuanya, dan mendudukanya kembali di kursi.



Pukul 07.30 Wib, aku berangkat kerja. Saat aku tinggalkan Lastri masih tidur. kondisi tubuhnya dingin sekali dan sedikit pucat.


"Bu, Aku titip Lastri. Maafkan aku membebani Ibu seperti ini." Aku mencium tanganya dan langsung berlalu pergi.


Di perjalanan, aku langsung mengabari beberapa saudara istriku untuk mencari tahu siapa itu Hadi dan apa hubunganya dengan istriku.


Sesampainya di kantor tepat pukul 08.00 Wib Aku langsung di sambut Satpam dan menyampaikan, kalau aku di tunggu, Bos di ruangannya.


"Pagi, Pak Khaerul" Santi Asisten Pak Lehman menyambutku di depan ruangan Pak Lehman.


"Pak Lehman, memintaku untuk menemuinya" Santi tersenyum dan menyodorkan Id Card kantorku. "Ketinggalan, kemarin" katanya. Aku balas senyum dan langsung berlalu masuk kedalam ruangan Pak Lehman.


"Hari ini, kamu sudah siap kan mempresentasikan project kita?" Sambut Pak Lehman, begitu aku sudah duduk rapi. 


"Presentasi?" Tanyaku, benar-benar bingung dan langsung teringat, tentang Project yang memang di jadwalkan untuk di presentasikan nanti sore.


"Kamu, bawa filenya kan? ini Project besar Khaerul, kamu tidak boleh mengecewakan Investor dan aku." Beliau berdiri dari tempat duduknya dan meminta aku untuk uji coba presentasi.


Aku langsung menngeluarkan Laptop dan mulai mempresesntasikanya, kegugupanku bisa aku rasakan. Aku yakin beliau juga merasakannya.


"Ada apa Khaerul, kamu tidak seperti biasanya?" Pak Lehman, memperhatikanku dari tempat duduknya, dan akhirnya memintaku istirahat di tengah Uji coba presentasi. Aku langsung keluar dari ruangan dan menemui Santi.


"Santi, kamu bisa ambilkan aku air dan obat sakit kepala?" Santi menggangguk sambil tersenyum. 


Tak lama kemudian, Pak Lehman keluar dari ruanganya. menemuiku yang sedang duduk di ruangan Santi.


"Kamu ada kedekatan apa sama Santi?" Pertanyaan itu benar-benar membuat aku seketika gagap dan menjawab asal tidak beraturan.


"Aahahaha, semua karyawan di sini, memang sangat tertarik dengan Santi, jangan terlalu kaku seperti itu Khaerul. Aku tunggu kamu satu jam lagi, di ruangan saya." Hampir saja nafasku putus, beruntung Pak Lehman mengakhirinya dengan tawa dan bukan intograsi berlebihan.


Waktu istirahatku, selesai. Dan langsung masuk ruangan Pak Lehman, di sana aku mencoba latihan lagi untuk presentasi. 


"Nah, bagus! Seperti ini yang pasti bikin Investor

 ketagihan untuk terus mengirimkan uangnya, Good Job!" Pah Lehman, menepuk pundakku dan keluar dari ruanganya.


"Kita ke kantin, Khaerul" Aku keluar ruangan dan mengikuti Pak Lehman tepat di belakangnya.


Sesampainya di kantin, tiba-tiba seluruh karyawan terlihat menggunakan seragam yang sama. memakai jubah warna hitam dan berbaris melingkar. Aku coba memutar otaku agar berfikir positif dan menganggap mereka sedang merayakan ulang tahun salah satu rekan kerjanya.

Pengaturan Membaca
Ukuran Teks
Jenis Font
Warna Latar
Daftar Bab
1
Bab 1
Komentar
Memuat komentar...
Silakan Login untuk komentar.
Sawer Penulis
Dukung @admin dengan Koin Ira.